Kliping Reproduksi Karya Seni Lukis

Disusun oleh:
1.
Aditya
Nugroho Dwi Roso
2.
Imas
Nopiani
3.
Stevani
Veronica
4.
Wulan
Amalia Mustika Damayanti
Kelompok: 2
Kelas:
XI MIA 2
SMA NEGERI 1 KAB. TANGERANG
Tahun Ajaran 2019/2020
Lukisan : Kakak dan Adik
(Basuki Abdullah – tahun 1971)

Cat minyak pada
kanvas.
ukuran : 65 x 79
cm.
Lukisan Basuki Abdullah yang berjudul
“Kakak dan Adik” (1978) ini merupakan salah satu karyanya yang menunjukkan
kekuatan penguasaan teknik realis. Dengan pencahayaan dari samping, figur kakak
dan adik yang dalam gendongan terasa mengandung ritme drama kehidupan. Dengan
penguasaan proporsi dan anatomi, pelukis ini menggambarkan gerak tubuh mereka
yang mengalunkan perjalanan sunyi. Suasana itu, seperti ekspresi wajah mereka
yang jernih tetapi matanya menatap kosong. Apabila dengan pakaian mereka yang
bersahaja dan berwarna gelap, sosok kakak beradik ini dalam selubung keharuan.
Dari berbagai fakta tekstur ini, Basuki Abdullah ingin mengungkapkan empatinya
pada kasih sayang dan kemanusiaan.
Namun demikian, spirit keharuan kemanusian
dalam lukisan ini tetap dalam bingkai Romantisisime. Oleh karena itu, figur
kakak beradik lebih hadir sebagai idealisasi dunia utuh atau bahkan manis,
daripada ketajaman realitas kemanusiaan
yang menyakitkan. Pilihan konsep estetis yang demikian dapat dikonfirmasikan
pada semua karya Basuki Abdullah yang lain. Dari berbagai mitologi, sosok-sosok
tubuh yang telanjang, sosok binatang, potret-potret orang terkenal, ataupun
hamparan pemandangan, walaupun dibangun dengan dramatisasi namun semua hadir
sebagai dunia ideal yang cantik dengan penuh warna dan cahaya.
Berkaitan dengan konsep estetik tersebut,
Basuki Abdullah pernah mendapat kritikan tajam dari S. Sudjojono. Lukisan
Basuki Abdullah dikatakan sarat dengan semangat Mooi Indie yang hanya berurusan
dengan kecantikan dan keindahan saja. Padahal pada masa itu, bangsa Indonesia
sedang menghadapi penjajahan, sehingga realitas kehidupannya sangat pahit,
kedua pelukis itu sebenarnya memang mempunyai pandangan estetik yang berbeda,
sehingga melahirkan cara pandang/pengungkapan yang berlainan. Dalam
kenyataannya estetika Basuki Abdullah yang didukung kemampuan teknik akademis
yang tinggi tetap menempatkannya sebagai pelukis besar. Hal itu terbukti dari
berbagai penghargaan yang diperoleh, juga didukung dari masyarakat bawah sampai
kelompok elite di istana, dan juga kemampuan bertahan karya-karyanya eksis
menembus berbagai masa.
Biografi Basuki Abdullah
Basoeki Abdullah lahir di Surakarta, Jawa
Tengah, 25 Januari 1915 – meninggal 5 November 1993 pada umur 78 tahun, dia
merupakan salah satu pelukis maestro yang dimiliki Indonesia.Ia dikenal sebagai
pelukis aliran realis dan naturalis. Ia pernah diangkat menjadi pelukis resmi
Istana Merdeka Jakarta dan karya-karyanya menghiasi istana negara dan
kepresidenan Indonesia, karyanya juga koleksi oleh para kolektor dari berbagai
penjuru dunia.
Bakat melukisnya terwarisi dari ayahnya,
Abdullah Suryo Subroto, yang juga seorang pelukis dan penari. Sedangkan
kakeknya adalah seorang tokoh Pergerakan Kebangkitan Nasional Indonesia pada
awal tahun 1900-an yaitu Doktor Wahidin Sudirohusodo. Sejak umur 4 tahun
Basoeki Abdullah mulai gemar melukis beberapa tokoh terkenal diantaranya Mahatma
Gandhi, Rabindranath Tagore, Yesus Kristus dan Krishnamurti.
Pendidikan formal Basoeki Abdullah
diperoleh di HIS Katolik dan Mulo Katolik di Solo. Berkat bantuan Pastur Koch
SJ, Basoeki Abdullah pada tahun 1933 memperoleh beasiswa untuk belajar di
Akademik Seni Rupa (Academie Voor Beeldende Kunsten) di Den Haag, Belanda, dan
menyelesaikan studinya dalam waktu 3 tahun dengan meraih penghargaan Sertifikat
Royal International of Art (RIA).
Pada masa Pemerintahan Jepang, Basoeki
Abdullah bergabung dalam Gerakan Poetra atau Pusat Tenaga Rakyat yang dibentuk
pada tanggal 19 Maret 1943. Di dalam Gerakan Poetra ini Basoeki Abdullah
mendapat tugas mengajar seni lukis. Murid-muridnya antara lain Kusnadi (pelukis
dan kritikus seni rupa Indonesia) dan Zaini (pelukis impresionisme). Selain
organisasi Poetra, Basoeki Abdullah juga aktif dalam Keimin Bunka Sidhosjo
(sebuah Pusat Kebudayaan milik pemerintah Jepang) bersama-sama Affandi,
S.Sudjoyono, Otto Djaya dan Basoeki Resobawo.
Di masa revolusi Bosoeki Abdullah tidak
berada di tanah air yang sampai sekarang belum jelas apa yang melatar belakangi
hal tersebut. Jelasnya pada tanggal 6 September 1948 bertempat di Belanda
Amsterdam sewaktu penobatan Ratu Yuliana dimana diadakan sayembara melukis,
Basoeki Abdullah berhasil mengalahkan 87 pelukis Eropa dan berhasil keluar
sebagai pemenang, sejak itu pula dunia mulai mengenal Basoeki Abdullah, putera
Indonesia yang mengharumkan nama Indonesia. Selama di negeri Belanda Basoeki
Abdullah sering kali berkeliling Eropa dan berkesempatan pula memperdalam seni
lukis dengan menjelajahi Italia dan Perancis dimana banyak bermukim para
pelukis kelas Dunia.
Basoeki Abdullah terkenal sebagai seorang
pelukis potret, terutama melukis wanita-wanita cantik, keluarga kerajaan dan
kepala negara yang cenderung mempercantik atau memperindah seseorang ketimbang
wajah aslinya. Selain sebagai pelukis potret yang ulung, diapun melukis
pemandangan alam, fauna, flora, tema-tema perjuangan, pembangunan dan
sebagainya.
Basoeki Abdullah banyak mengadakan pameran
tunggal baik di dalam negeri maupun di luar negeri, antara lain karyanya pernah
dipamerkan di Bangkok - Thailand, Malaysia, Jepang, Belanda, Inggris, Portugal
dan negara-negara lain. Lebih kurang 22 negara yang pernah disinggahi untuk
pameran karya lukisanya. Hampir sebagian hidupnya dihabiskan di luar negeri
diantaranya beberapa tahun menetap di Thailand, dan sejak tahun 1974 Basoeki
Abdullah menetap di Jakarta, diangkat sebagai pelukis Istana Merdeka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar